Minggu, 10 Mei 2009
BERPOTENSI SUKSES KARENA BAKAT
Kebanyakan orang di negeri kita beranggapan bahwa, prestasi sekolah adalah prestasi segala-galanya. Bilamana ada seorang anak mendapatkan nilai yang bagus, orang tuanya akan merasa senang dan tak jarang memberinya hadiah. Sebaliknya, ada seorang ibu yang marah-marah kepada anaknya kerana nilai yang didapat adalah nilai buruk. Tampaknya, masyarakat kita belum banyak tahu bahwa kecerdasan tiap orang itu berbdeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan pemahaman yang keliru, orang tua lebih percaya bahwa prestasi sekolah adalah prestasi terbaik dan segala-galanya.
Pernahkah anda menemui orang tua yang memberi hadiah kepada anaknya karena sang anak berhasil membuat kandang ayam dari kayu yang dibuatnya sendiri selama empat hari? Si anak membuatnya haingga seringkali lupa makan, atau makannya terlambat. Bangun pagi, bukanya buku sekolah yang dipegang, tapi kandang ayam yang belum selesai pengerjaannya. Andai saja ada, kebanyakan orang tua kita akan memarahi anaknya dengan alsan si anak terlalu banyak bermain, atau dianggap tidak serius belajar pelajaran sekolah. Hanya sedikit diantara mereka yang menyadari bahwa dibalik ketekunan anak itu membuat apa yang diingininya, ada sebuah modal yang amat mahal bagi masa depan keberhasilan anak tersebut. Modal mahal itu adalah, talenta. Kalau kurang dimengerti, sebagian orang akan menyebut dengan kata bakat. Ya, setiap orang lahir dengan memiliki bakat yang berbeda-beda, sebagai bekal dari Allah berupa kelebihan satu orang dengan sesamanya.
Apapun bakat seseorang, mesti mendapatkan apresiasi. Adalah merupakan hal yang salah, ketika orang tua menganggap bahwa apa yang dilakukan anak yang berpayah membuat kandang ayam berhari-hari tersebut adalah sebuah kelalaian. Mestinya, itu mendapatkan apresiasi karena dia berusaha membangun impiannya dengan mengembangkan bakat yang dibawanya sejak lahir. Nistains odop dalam bukunya yang berjudul Gagal Itu Baik, setuju mengatakan bahwa talenta adalah modal termahal yang dimiliki seseorang.
Sebagaimana kemahiran, talenta akan menjadi nilai plus bagi seseorang jika benar-benar dilatih terus menerus. Sebaliknya, talenta itu akan terkubur, tidak diperhitungkan, menjadi tidak berharga bagi seseorang ketika tidak pernah ditempa, tidak pernah dilatih, atau tidak pernah ditekuni. Sangat disayangkan kalau sampai itu terjadi.
Senilai perumpamaan seorang yang mendapatkan warisan harta kekayaan yang amat berlimpah, kemudian hilang sia-sia. Harta itu dirampok, dibuang dengan sengaja, atau dikubur. Dirampok oleh orantuanya sendiri yang menganggap bahwa bakatnya itu adalah sebuah kelalaian yang tidak berguna. Talenta atau bakat yang dibuang oleh pemilikinya karena merasa apa yang dimilikinya berupa keahlian dalam suatu bidang tersebut dianggap tidak bisa membawanya kepada kesuksesan, atau dianggap tidak memiliki nilai yang berharga bagi dirinya sendiri. Ada juga, yang mengubur talentanya sendiri dengan sengaja menutupnya, dan mengatakan bahwa dirinya tidak mampu melakukan itu. Akhirnya dia lebih memilih melakukan pekerjaan yang biasa saja, yang dilakukan kebanyakan orang, yang sudah dianggap biasa.
Saya sendiri mengalami seperti apa yang dialami kebanyakan orang di lingkungan masyarakat kita yang umumny tidak melihat berharganya sebuh bakat. Ketika saya duduk di bangku SMP, ayah saya menginginkan saya mengikuti bimbinga belajar. Beliau bermaksud, agar nilai matematika, niali fisika, bahasa inggris, dan pelajaran pokok lainnya bagus.
Memang, dulu guru matematika saya sering sekali memuji nilai saya yang biasa duduk diperingkat tertinggi. Tapi, saya sendiri tidak mendapati keasyikan untuk berlajar jauh matematika. Saya tidak pernah sibuk memperlajari matematika hingga terus menerus. Saya tidak tertarik. Kalau nilai saya bagus, itu karena saya intens dalam memperhatikan.
Ayah saya menginginkan saya terus meningkatkan nilai pelajaran eksakta, dengan harapan kedepan saya bisa diterima di SMU favorit. Dalam hati, saya menolak itu. Saya tidak pernah berkeinginan untuk bergulat dengan soal-soal matematika, fisikka, dll. Saya tidak suka itu.
Menjalani bimbingan itu, rasanya merupakan hal yang paling membosankan bagi saya. Setiap datang hari yang sorenya saya harus berangkat bimbingan belajar, bagi saya hari itu adalah hari yang paling duka. Saya selalu bersedih. Beberapa kali saya menunjukkan keengganan saya untuk berangkat, tapi itu tidak ditangkap oleh orang tua sebagai nilai positif. Saya selalu dimarahi ketika tidak berangkat. Sengaja, setiap kali berangkat saya mencari alasan untuk bolos. Saya terkadang bersembunyi di balik tumpuka pakain yang belum disetrika ibu, dengan pura-pura tidur. Setiap kali ayah menemukan saya, beliau aka membangunkan saya dan memaksa saya berangkat bimbingan belajar.
Di lain pihak, kebiasaan saya yang sejak kecil teramat hobi menulis kisah-kisah dalam buku harian, tidak ditangkap oleh orang tua bahwa itu adalah bakat saya yang lebih mahal daripada keseriusan saya mempelajari matematika, atau berangkat bimbinga belajar. Saya masih ingat, setiap selesai menulis satu kisah, saya akan serahkan kepada orang tua. Setalah itu saya hanya mendapatkan pujian. Itu saja. Tidak pernah saya diantar ke komunitas penulis, atau sekola menulis, atau difasilitasi lebih untuk mengembangkan bakat saya dalam menulis. Akibatnya, saya menjadi tidak PD. Saya merasa, bakat saya tidak berharga. Saya merasa tidak memiliki kelebihan, ditambah lagi saya harus menjalani kewajiban belajar hal yang saya tidak senangi. Saya amat menyayangkan hal itu.
Meski demikian bagi saya tidak masalah, karena itu adalah realita kebanyakan masyarakat kita termasuk orang tua saya. Umumnya mereka lebih memilih mengukir prestasi yang dianggap berharga bagi kebanyaka orang. Berrcita-cita menjadi dokter, berkerja diperusahaan asing, menjadi pegawai negeri sipil,dll. Itu baik saja, kalau memang disitulah keenderungan atau bakat seorang . buruknya, ketika hal itu menjadi tujuan agar memiliki gaji tetap, agar mendapatkan kesejahteraan gaji, agar banyak uang, agar dapat pensiunan, dll. Kalau sudah begitu cara berfikirnya, maka berbakat itu berarti berpotensi gagal. Hal itu karena, bakat akan menganggu keseriusan seorang untuk melakukan sesuatu yang dianggap hebat tapi hebat menurut kebanyakan orang, bukan pada dirinya sendiri.
Pada hakikatnya, setiap orang berpotensi menjadi seorang yang sukses, sukses menurut makna kesuksesan yang paling disukainya. Dasarnya, setiap orang terlahir dengan memiliki bakat, dan bakat itu adalah sesuatu yang menjadikan seorang diperhitungkan, kalau saja seseorang memaksimalkan bakat dibawanya. Bakat menulis, kecenderungan pada eksakta, melukis, memancing, membuat kerajinan tangan, kegemaran bergelut dengan eloktronika, berorasi, memancing, diplomasi, berlari dengan cepat, berenang dengan cepat, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya satu persatu.
Bagaimana saya tahu bakat saya?
Apa saja yang menjadi kecenderungan seseorang untuk melakukan sebuah aktifitas-positif tentunya-, maka disitulah bakatnya. Seorang motivator terkemuka, Mario Teguh, dalam sebuah tayangan televisi pernah mengatakan beberaa point untuk mengidentifikasi bakat seseorang. Dalam uraiannya, dia mencirikan bakat itu adalah, sesuatu yang anda hasilkan. Hasil dari apa yang telah anda buat, mendapatkan pujian banyak orang, dengan kata lain orang akan memuji karya anda. Namun demikian, anda merasa biasa saja dengan apa yang anda hasilkan. Itu ciri yang pertama.
Yang kedua, teliti aktifitas apa yang selama ini anda lakukan dengan rela bangun pagi karenanya, anda terbiasa berkorban untuk melakukannya. Misalnya, anda sering telat makan, kurang tidur, karena anda asyik melakukan aktifitas itu.
Yang ketiga, aktifitas itu anda lakukan dengan dasar senang. Anda senag malakukannya, atau anda mencintai aktifitas itu.
Ciri itu bisa dicontohkan dengan seorang yang gemar membuat kandang burung, misalnya. Aktifitas-membuat kandang burung-itu begitu dicintainya. Setiap kali dia berhasil menyelesaikan pengerjaannya, orang lain akan kagum dan memuji hasil karyanya tersebut. Sedsangkan, dia sendiri yang mengejakannya menilai itu biasa saja. Hal itu dinilai oleh dirinya sendiri dengan sesuatu hal yang biasa, karena dia biasa melakukannya. Satu lagi, dia amat mencintai aktifitas pemngerjaan kandang burung itu ! nah, itulah bakatnya.
Sampai di sini, jangan berfikir bahwa dia tidak bisa berhasil dengan itum karena menganggap tidak ada nilai plusnya memiliki bakat itu. Tidak demikian. Tampaknya, itu hanya bakat membuat variasi kandang burung, suatu saat, sangat mungkin dia menjadi seorang yang bersepealisasi dalam pembuatannya, hingga bisa menjadi barang antik karena bentuknya. Kalau sudah demikian, orang banyak kagum dengan karyanya. Perhatikan, berapa banyak pecinta burung di negeri kita? Hitung, betapa besar peluang pasarnya kalau dia terus menekuni bakatnya, dan akhirnya dia menemukan model kandang yang baru yang belum ada sebelumnya! Sangat mungkin, penemuannya tentang kandang burung model baru, akan bisa dipatenkan hak produksinya. Nah, tidak mustahil kelak dia akan memiliki perusahaan besar yang memproduksi kandang burung unik. Benarkan?
Jangan malah berfikir, sayang sekali seorang yang memiliki bakat tersebut. Paling banter, dia hanya bekerja sebagai seorang pembuat kandang burung. Ah, cara berfikir seperti itu terlalu sempit. Tidak ada yang menghalangi seorang menjadi bos, tidak ada orang yang menghalanginya sukses. Sebaliknya, dia bisa menciptakan kesuksesan dengan bakat yang dimilikinya itu.
Senin, 26 Januari 2009
Analogi Unik

ANALOGI UNIK
Dalam sebuah ceramah agama yang disampaikan oleh seorang ustadz ditengah-tengah rangkaian acara shalat tarawih berjamaah, saya mencoba menyimak. Dari awal saya begitu mengikuti isi ceramah yang disampaikan, karena selain pembawaan ustadz dalam menyampaikan ceramah cukup bagus, saya mencatat beberapa point unik perlu untuk kita semua tahu. Barangkali, untuk menambah wacana pengetahuan kita tentang realita fenomena dakwah di masyarakat kita yang tergolong beragam dan unik. Sama sekali saya tidak bermaksud mengkritisi, sekedar berbagi atau mungkin bagi sebagian orang merupakan catatan hiburan atau lelucon.
Ustadz muda tersebut menyampaikan perihal nikmatnya orang memilih Islam sebagai agama dengan dilanjutkan keterangan dan anjuran untuk menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup yang harus dipelajari.
“ Ibaratnya kita hendak pergi ke Jakarta sedangkan sebelumnya kita sama sekali belum pernah ke Jakarta, tentu kita butuh peta untuk sampai ke Jakarta. Itu berarti peta sangat kita butuhkan dalam perjalanan menuju Jakarta. Begitu juga dengan kehidupan kita. Kita hidup di dunia menuju kehidupan akhirat. Untuk selamat di dunia dan di akhirat, kita perlu menggunakan Al Qur’an untuk menuntun hidup kita agar selamat sampai tujuan kita, yaitu bahagia dunia dan akhirat.
Bagaimana kita bisa mempelajari Al Qur’an, sedangkan membaca alquran saja kita sulit, malah tidak bisa sama sekali. Oleh karena itu, para hadirin sekalian jangan pernah merasa malas atau berat untuk datang menghadiri undangan pengajian yang di dalamnya dipelajari al qur’an. Tujuannya, bagaimana agar kita paham bagaimana aturan yang tertulis dalam alquran untuk mengatur kehidupan kita.
Jangan semangatnya kalau datang menghadiri pasar malam aja! Ya kalau ada pasar malam datang berbondong-bondong, kalau ada undangan pengajian ya sama, datang penuh semangat berbondong-bondong mempelajari alqur’an. Kalau begitu dunia nya dapat, akhirat nya juga dapat.
Bapak, ibu, hadirin sekalian………
Kalau orang kok hidup tanpa alquran, hidupnya tidak akan tenang. Untuk bisa tidur aja susah, perlu obat tidur, perlu suntikan, ah pokoknya macam-macam deh. Intinya, selain hidupnya tidak tenang, dia tidak akan mendapatkan petunjuk.
Jadi jangan dikira, semua pejabat tu hidupnya tenang. Pejabat atau siapapun juga kalau hidupnya tanpa didasari pada alquran, maka sudah bisa dipastikan hidupnya tidak tenang. Mungkin khawatir kedatangan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Mo makan ga enak, mo tidur susah, mau ngapa-ngapain juga serba bingung.
Ada seorang pengusaha besar yang cukup terkenal, sudah barang tentu dia orang yang kaya raya. Orang mengira dirinya hidup dengan serba tercukupi sehingga barang tentu kehidupannya tenang. Tapi tidak demikian. Pengawal pribadinya adalah teman saya sendiri, dia pernah bercerita perihal bosnya yang tidak bisa tidur kecuali setelah minum obat atau terlebih dahulu disuntik. Itupun tidak bisa lama. Terkadang 2 jam setelah tidur dia terbangun dengan sendiri dan susah untuk bisa meneruskan tidurnya lagi. Jadi, untuk bisa tidur lama saja, dia memerlukan beberapa kali suntik atau harus beberapa kali minum obat tidur. Jadi benarkan, orang kalau tidak mau pegang al quran, meski dia pejabat, meski dia orang kaya, dia tidak akan merasakan ketenangan hidup.
Berbeda dengan orang islam yang mau pegang alquran. Tidurnya mudah, hidupnya tenang. Coba lihat, kalau di pengajian biasanya tausiahnya baru dimulai saja, jamaah sudah terlihat ada yang tidur, padahal yang sedang dikaji al qur’an. Mudah bukan kalau orang mau pegang quran bisa tidur? Silahkan lihat kalau lagi sholat jum’at, berapa banyak jama’ah yang tertidur padahal ceramahnya baru saja dimulai. Itu berarti, orang yang memegang al quran itu tidak mengalami sulit tidur, ya kan?.
Mendengar hal itu jamaah tertawa, termasuk juga saya sendiri. Saya tidak habis pikir, betapa cerdas ustadz muda ini membuat sebuah analogi. Ya, itulah sebuah analogi unik. Bagaimana tidak, belajar alqur’an, berpegang teguh dengan al qur’an kok sangkutannya dengan tidur waktu mendengarkan kajian al quran?
Fy ruzz adnan
DALAM DEKAPAN IBU
DALAM DEKAPAN IBU
Jauh diperantauan, di sebuah kota metropolitan jakarta, saya merenung. Alam pikiranku terlempar jauh ke rumah. Terlihat potongan wajah ibu dan bapakku. Banyak perubahan sudah pada diri mereka. Ayah yang dulu seorang yang gagah dan tegas, kini beliau harus mengkonsumsi obat dalam jumlah banyak, untuk menjaga kesehatannya setelah beberapa waktu lalu hingga kini mengidap pengakit gula. Demikian juga ibu. Setiap kali datang, saya sering mendengar keluhan tentang kondisi fisiknya yang sering kecapaian.
Bagi saya, ibu merupakan sosok wanita yang luar biasa. Seingat saya, sejak kecil hingga kini, saya tidak pernah melihat atau mendengar ibu membantah ayah, atau terlibat adu mulut dengan ayah. Sama sekali tidak pernah. Saya hanya ingat, dua kali ibu menangis karena benar-benar saat itu keluarga sedang mengalami himpitan ekonomi, sedangkan saat itu saya dan empat saudara saya masih kecil-kecil. Saat itu memang, ibu tidak terlibat dengan aktifitas pekerjaan di luar, ibu hanya di rumah mengurusi anak-anak.
Kedua kalinya, ibu menangis pagi hari sebelum saya berangkat ke sekolah. Ibu menangis sambil menggendong adik saya perempuan bungsu, Zahra. Saya tidak tahu persis awal ceritanya bagaimana, yang saya ingat hanya saat itu Zahra yang baru berusia beberapa hari, bermaksud hendak diasuh oleh bibi yang sudah sekian lama menikah belum dikaruniai keturunan. Tidak hanya ibu yang menangis, beberapa diantra kami juga menangis. Saat itu, Zahra memang begitu lucu dan menggemaskan, dan merupakan saudara kandung kami. Seakan kami semua tidak terima kalau Zahra harus berpisah dari kami dan ibu.
Maaf saya lupa, ternyata tidak hanya dua kali saya melihat ibu menangis. Ibu menangis ketika melepaskan kakak laki-laki saya untuk dibawa ke pesantren. Yang saya ingat tidak hanya ibu yang menangis, saya juga, adik-adik juga. Entah kenapa saat itu tidak seperti biasanya, kami biasa bertengkar karena empat anak laki-laki lahir berurutan dan hampir sama besar. Tapi saat itu, fisik mas hakim memang belum cukup besar. Bapak bermaksud mengantarkannya ke pesantren selepas MI di sebuah pesantren yang cukup jauh dari rumah, tepatnya di Propinsi Lampung. Entah mengapa saat itu ayah mendaftarkannya ke pesantren yang cukup jauh dan tidak begitu dikenal, padahal saya yakin saat itu ayah juga pasti tahu pesantren-pesantren unggulan di pulau Jawa semisal Gontor.
Ibu pernah bercerita, mas Hakim bertanya kepada ayah ketika hendak meninggalkan rumah dengan digandeng oleh ayah “pak, kok ibu nangis kenapa?”. Saya amat sedih menuliskan kisah ini. Ibu begitu bermakna bagi saya.
Saat ini, semua saudara laki saya berpisah. Mas Hakim mencari nafkah di Jepang. Saya kuliah di Jakarta. Dua adik laki-laki, Izzuddin dan Maulana di Karanganyar, solo.
Mengingat kembali masa lalu dengan ibu, terkadang saya tertawa, namun sebaliknya kadang juga saya harus bersedih ingin pulang memeluknya.
Suatu saat, ketika anak pertama ibu, hendak berangkat ke sekolah perawatan setingkat SMU, ibu bermaksud mengajak adik yang masih kecil saja karena banyaknya barang bawaan dan bekal mba Ika. Mba Ika, saat itu bersekolah di sekolah perawatan yang berasrama, jadi pikir kami sebetar lagi mba Ika tidak lagi berada di tengah-tengah kami.
Sore hari, dengan menggunakan becak, ibu dan mba Ika hendak berangkat. Saya dan izzuddin yang saat itu sudah agak besar, hendak ditinggal ibu. Kami berdua memaksa agar bisa ikut. Ibu selalu bilang tidak bisa, tidak usah ikut, becaknya tidak muat. Saya dan izzuddin terus memaksa. Akhirnya, becak berjalan tanpa kami berdua. “ok, kita cegat nanti di Penaton” kata saya.
Kami berdua berlari mengejar becak lewat Penaton bermaksud mencegat rombongan ibu. Ya, sampailah kami di depan becak ibu. Saya cegat, berusaha lagi merengek agar supaya diikutkan. Ibu kembali melarang. Namun, bapak pengayuh becak mencoba menenangkan hati kami berdua dengan mempersilahkan untuk ikut naik bersama rombongan ibu.
Ya, kami berdua naik ke atas becak, sambil ibu menggerutu. Becak sudah benar-benar penuh, nampaknya bapak pengayuh becak merasa beban yang amat berat karena barang bawaan mba ika begitu banyak. Belum lagi ditambah lagi saya dan Izzuddin.
Yang saya ingat, saya hanya bisa berdiri bersandar di besi samping becak, sedang Izzuddin berada di satu sisi lainnya.
Becak kembali mulai beralan lagi. Becak berjalan semakin pelan, karena beban semakin bertambah berat. Di depan, tidak jauh setelah becak berjalan, ada sebuah polisi tidur yang memang tidak terlalu tinggi, tapi cukup lancip di bagian atasnya. Perasan saya sudah mulai tidak enak, nampaknya sebentar lagi akan terjadi sesuatu. Benar saja, apa yang saya rasakan terjadi. Saat perlahan roda depan becak menaiki polisi tidur, sudah hampir tidak kuat naik. Akhirnya, sedikit dipaksakan akhirnya naik juga.
Namun malang, saat roda belakang dimana pengayauh becak duduk tepat di atasnya menaiki polisi tidur, naik tanpa bisa kembali turun. Bapak becak itu mengayuh roda yang menggelantung diatas udara alias temangsang di udara dengan posisi tetap duduk mengayuh tapi tidak menggapai tanah.Muatan di depan terlalu berat dan berhamburan keluar. Dengan sigap saya dan izzuddin melompat keluar melarikan diri setelah bencana malang itu menimpa kami semua penumpang becak. Roda depan yang semula bulat, menjadi bengkok, kontan perjalanan tidak bisa dilanjutkan. Saya berlari ke rumah, tidak mempedulikan kondisi ibu dan adik kecilku yang saat itu masih digendongan. Akhirnya, ibu mengganti biaya penggantian roda karena iba dengan kondisi bapak becak yang tak berpunya dan bernasib malang. Astaghfirullah.
Sedemikian, namun hingga kini ibu tidak pernah mengungkit kembali kisah itu karena jengkel, melainkan untuk mengingat kembali kisah lucu untuk menghibur kami, yang saat terjadinya barangkali sama sekali tidak ada yang lain selain jengkel dan mangkel dengan kami berdua.
Lagi, suatu malam selepas bermain ke rumah teman, saya pulang ke rumah. Tidak seperti biasanya, malam seperti itu rumah masih ramai. Saya hanya dengar ricuh ramai, tampaknya belum ada yang tidur. Sesampainya dirumah, saya baru tahu ternyata semuanya bergembira karena baru saja ibu beli sepeda baru warna metallik. Malam itu, saya mencoba sepeda ibu, saya bawa keluar rumah. Betapa senangnya, sebagaiman ibu juga senang karena besok pagi tidak lagi perlu berjalan kaki belanja ke pasar. Di samping roda depan, ada sebuah lampu kuning untuk menerangi jalan ketika digunakan malam hari sebagaiman layaknya lampu sepeda motor. Begitu senangnya, bergantian kami mencoba. Sepeda itu juga biasa saya pijam untuk suatu keperluan.
Suatu sore di akhir Ramadlan, saya bermaksud i’tikaf di masjid. Saya bilang ke ibu izin menggunakan sepeda ke masjid. Saat itu ibu di belakang, saya hanya izin dengan berteriak. Semuala ibu melarang khawatir sepeda hilang karena hampir idulfitri biasanya banyak pencurian. Tapi tidak begitu saya gubris, tetap saja sepeda saya bawa ke masjid karena saya malas berjalan.
Sesampainya di masjid, sepeda saya letakkan di samping masjid. Selepas berwudlu, saya naik ke lantai dua dan mulai mengaji dengan asyik. Terus mengaji, terus mengaji hingga tidak terasa sebentar lagi datang waktu berbuka. Saya sudahi ngaji, dan saya turun kebawah mengambil sandal, pulang. Saya berjalan menuju samping masjid untuk mengambil sepeda ibu. Tapi, apa yang dikhawatirkan ibu benar, sepeda itu hilang, tidak ada. Saya kaget. Semula saya hanya membatin, “ah ini mesti dipakai si Fan untuk maen bola di lapangan Kalisari tanpa bilang ke saya”. Bermaksud memastikan, saya menyusul Fan ke lapangan, saya pinjam sepeda seorang teman. Sesampainya dilapangan, saya tanyakan ke fan ternyata dia tidak membawanya. Astaghfirullah, “berarti dimana???!!!hilang???
Kembali lagi ke masjid, berharap tadi di pinjam teman tapi tidak ijin dan sekarang sudah dikembalikan. Ternyata, tidak juga saya temukan sepeda ibu. Perasaan saya bingung, apa yang harus saya bilang ke ibu. Saya teringat kembali tadi ibu sudah melarang, dan kini saya menyesal. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Saya pulang dengan berbagai perasaan bingung dalam hati.
Sesampai di rumah, saya bilang pada ibu sepeda hilang. Tidak banyak berkata-kata, ibu banyak diam tapi nampak memendam rasa yang amat jengkel. Ibu sangat menyayangkan. Saat tiba waktu berbuka, bukan nikmat buka puasa yang saya rasakan. Saya juga merasakan pahit rasanya menjadi pusat perhatian dan tempat menumpahkan rasa jengkel saudara-saudara saya.
Kini, saya minta maaf ketika kisah itu saya ceritakan kembali ke ibu, tapi kini ibu tersenyum dan memukul kepala saya dengan gemas sayang. Ibu, bagaimana saya harus membalas kasih sayangmu. Sayang yaang dapat saya berikan tidak seberapa membalas apa yang engkau berikan. Ya Allah, ampunilah dosanya, mudahkanlah urusannya dan sayangilah dia sebagaimana dia menyayangiku ketika aku kecil.
Kini, menginjak dewasa setelah semenjak 5 tahun lalu saya tidak tinggal menetap bersama ibu, ibu seringkali meminta dipijit semabri bilang “mak’e gecel yus” ketika saya pulang ke rumah. Ya, nama kecil ibu memanggil saya dengan iYus.
Kedua kalinya, bapak. Sebagaimana apa yang dikata rasul dalam haditsnya, ketika menyuruh seorang sahabat sebanyak tiga kali untuk berbakti kepada ibu, kini saatnya saya berbakti kepada ayah. Seorang imam keluarga yang begitu tegas dalam mendidik kami, terlebih dalam tarbiyah diniah atau dalam ketaatan menjalankan perintah agama.
Sewaktu dulu kami semua masih kecil, setiap shubuh ayah membangunkan kami semua dengan berbagai cara hingga kami semua terbangun dan sholat berjamah di masjid untuk yang laki-laki. Dengan kemalasan yang amat, saya dan tiga saudara laki beragkat ke masjid sambil sesembari merebahkan badan di atas tembok yang biasa digunakan untuk duduk-duduk di depan rumah. Menunggu semuanya bangun, kembali lagi kami berjalan dengan ngantuk berjalan menuju masjid. Selesai sholat, kami tidak berani pulang sebelum selesai kuliah shubuh meski mendengarkannya sambil tetidur. Baru setelah itu, kami mulai pulang, itupun tidak begitu saja pulang.
Biasanya, sesampainya kami di mulut gang masuk menuju rumah, ayah menyuruh kami untuk berbalap lari di mulai dari yang paling kecil untuk berlari terlebih dahulu. Ayah bermaksud agar kami bugar tidak kembali tidur selesai shubuh, dan itu bagi ayah sangat dilarang. Kalau tidak mengaji al qur’an, diantara kami ada yang mengerjakan PR, atau menata jadwal sekolah hari ini, atau aktifitas apa saja selain tidur yang jelas.
Ketika saya kira-kira diakhir sekolah dasar, ayah bermaksud hendak mendidik kami menjadi gemar membaca, dan merubah tradisi pasif menonton televisi. Suatu pagi, TV oleh ayah dijual, dan digantikan dengan sebuah tape besar yang bisa juga untuk menyimak berita radio. Jadi, bagi ayah tidak ada alasan tertinggal informasi hanya karena tidak memiliki televisi.
Di awal kali, kami harus melihat televisi di rumah tetangga. Terkadang , hingga malam hari. Tapi, rupanya tidak lama kami mulai bosan melihat televisi, dan sedikit demi sedikit mulai akrab dengan membaca koran atau membaca apa saja. Untuk menghibur, ayah meminjamkan untuk saya buku 101 KISAH TELADAN yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah. Saya baca hingga jilid yang ke tiga belas kalau tidak salah, atau tepatnya berapa saya lupa.
Kini, kami semua menjadi hobi membaca, bahkan merasakan bacaan merupakan suatu kebutuhan. Berbelanja buku menjadi hobbi,dan menulis sedikit demi sedikit menjadi sebuah latihan keterampilan. Kalau anda datang ke rumah saya, akan didapati di tembok depan rumah berbagai artikel penting yang di tempel ayah. Belum lagi di lemari besar ruang tamu, anda akan mendapati berjubel buku dari berbagai bidang bahasan. Bahkan, masing-masing kami memilki koleksi buku yang cukup banyak. Saya sendiri, selama empat tahu dipesantren, buku yang saya beli sebanyak 3 kardus, selain buku pelajaran. Barangkali, buku yang saya miliki merupakan koleksi buku pribadi yang paling banyak diantara teman-teman. Alhamdulillah, mudah-mudahn bermanfaat.
Suatu ketika, ketika ayah pergi haji, seorang saudara bermaksud meminjamkan televisinya sebesar 21 inci untuk kami sekeluarga. Betapa senangnya, sudah lama ditengah-tengah kami tidak ada televisi. Tidak seperti biasanya, kami tidak perlu datang ke tetangga untuk melihat televisi, kami asyik menonton TV di rumah karena tidak ada ayah biasa yang melarang kami.
Sepulang ayah dari haji, televisi itu segera harus kami kembalikan karena ayah menyuruh kami mengembalikannya, meski yang punya mempersilahkan kami untuk tetap meninggalkan televisinya di rumah kami. Itulah, ketegasan dan kebaikan ayah.
Kini,setelah saya merantau di jakarta, hampir tidak pernah ayah tidak membangunkan saya lewat telepon hp di tengah malam. Subhanallah begitu perhatiannya, hingga saya sendiri heran, juga teman-teman serumah (kontrakan) pada heran, kok setiap hari masih diperhatikan sholat malamnya, meski jauh terpisahkan oleh jarak. Ya Allah, terimalah amalan sholehnya, ampunilah dosanya, dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangiku di waktu kecil.
Kini, ayah dan ibu sudah tua. Fisiknya sudah mulai melemah. Ayah sendiri sudah mulai sakit. Sedangkan, tidak setiap saat kami bisa berbakti secara langsung, karena terpisahkan oleh jauhnya jarak, sehingga hanya sesekali kami pulang dan mencium tangnnya. Ya Allah, mereka telah mendidik kami mengenalMu, maka jadikanlah keduanya dibawah rahmatMu, dan jauhkanlah keduanya dari api neraka dan siksa kubur, amin.
Tidak hanya saya sendiri yang mengalami dan meraskan belaian sayang orang tua. Semuanya tentu mengalami dan merasakan, dengan bentuk yang berbeda-beda. Apa yang saya tulis, hanya satu dari sekian banyak kisah yang mengingatkan kita, betapa oarang tualah adalah termasuk diatara sekian orang yang merubah kita, diantara orang yang meliki jasa yang besar kepada kita.
Sudah saatnya, kita kembali pulang mencari keridhoan mereka setelah lama kita penat dengan berbagai aktifitas di tempat yang jauh. Mereka berdua selalu mendokan kita, sebaliknya kita, akankah kita selalu mendoakan keduanya?
Fy ruzz adnan
Jakarta, 06 November 08