Minggu, 10 Mei 2009

KEANGKUHAN DIBALIK KELEMAHAN

KEANGKUHAN DIBALIK KELEMAHAN
Dalam sebuah perjalanan dengan menggunakan bus kecil, saya duduk di depan, dekat dengan sopir. Ketika itu entah apa yang sedang saya pikirkan, saya hanya melamun. Tiba-tiba sebuah mobi kijang pick up berhenti di depan bus menghadang. Sopir kijang itu, menolehkan wajahnya ke belakang dengan wajah garang, terlihat dari kaca yang ada dibelakangnya. Saya kaget seketika dia mengancam sopir bus yang saya tumpangi.
Takut kalau-kalau jalan macet, sopir saya berkata dengan suara yang lantang, "ke pinggir dulu, belakang macet!"
Tetap saja, dengan keangkuhannya sopir kijang keluar dari mobil. Saya terheran, apa yang terjadi. Saya belum tahu. Kaca bus tepat di depan posisi sopir di pukul dengan kerasnya. Kulit hitam ditambah lagi dengan buliran keringat yang membasahi wajahnya, menambahi keangkeran. Badannya tegap, potongan rambutnya ala militer, dan kaus yang dikenakannya terpampang tulisan anggota kesatuan aparat keamanan negara. Malah, kesatuan elit.
"kenapa ketawa-ketawa! turun ! serunya kencang sekali. Saya tidak melihat ada kesan tertawa pada wajah sopir bus di sampiang saya. dia tampak mulai ketakutan. Sebelum turun, dia bilang, "ah paling di tampar, prock!". Kasihan saya. badannya kecil, trus kru bus lainnya juga tampak tidak ada yang berani turun membelanya. Saya baru tahu, kalau ternyata hanya gara-gara bus saya nyenggol kijang yang memang juga sudah tampak tua. Anehnya, kenapa juga dipermasalahkan padahal nyenggolnya dikit dan pelan, nyampai saya yang duduk di depan juga ga denger. Mungkin karena saat itu saya sedang melamun memikirkan sesuatu serius, sampai-samapai suara senggolanI tidak terdengar oleh saya.
di dalam, penumpang yang sebagian ibu-ibu mengelus dada keakutan. Sedang saya sendiri merasa kasihan., tapi juga tidak berani turun mungkin karena penampilannya yang lekat dengan keangkeran kesatuan militer, menjadikan saya pikir-pikir untuk ikut-ikutan. Pengecut bukan ?
Tidak lama setelah memaki-maki sopir bus saya, dua kali bogem mentah mengenai perutnya. Wajahnya memelas, mengaduh, tapi sayang sekali tidak ada yang berani turun membelanya, termasuk saya dan kru bus.
Sudah maklum,tidak banyak yang berani berurusan dengan pihak militer. Ribet, menakutkan, dan tidak jarang terjadi pemalakan atau pemerasan dengan berbagai dalih kesalahan yang dicari-cari.
Sebuah contoh keangkuhan. Seragam militer, kulit hitam legam, postur badan tinggi tegap, potongan rambut ala pasukan militer. Itu semua bukan diciptakan untuk menjadi legalisasi tindakan menakut-nakuti orang yang lemah. Sebaliknya, mestinya orang yang lemah adalah merasa aman kerana keberadaannya. Apa yang terjadi, kalau saja yang terjadi adalah keangkuhan, keangkuhan yang dibungkus dengan seragam resmi anggota penegak keamanan negara?
PNS, komandan, bos, direktur, mandor, kopral, jendral, tukang becak, [penjahit, orang cacat, perawat, guru, semua jenis jabatan amupun pekerjaan yang ada, pada hakekatnya memiliki kesamaan. Kesamaan itu adlah kelemahan. Kalau saja jendral itu kuat, maka kenapa perlu mesti ada prajurit? Sekuat apapun seorang jendral, mana kuat dia kalau tanpa prajurit? Itu kalau jendral, yang di bawahnya ada prajurit. Semuanya sama, tidak ada yang perlu dibanggakan dengan kekuatannya, yang itu berarti tidak ada keangkuahan yang dibenarkan dengan alasan apapun itu.
Dengan kekuasaan, Firaun merasa angkuh dengan mengatakan bahwa dirinya tuhan. Bani israel saat itu, kudu taat kepadanya. Namun apakah fFiraun mampu berkuasa sendirian? Tidak. Dia memiliki tentara, pesihir, pekerja kerajaan, rakyat. Dia tidak bisa berkuasa sendirian. Dia merasa angkuh karena merasa apa saja yang dia inginkan akan terwujud dengan kekuasaannya. Akhirnya, Allah menenggalamkan diri berserta keangkuhannya. Tidak ada yang pantas dijadikan alasan untuk berbuat angkuh, sedangkan kita manusia adalah sebutir pasir di hamparan padang sahara kekuasaan Allah, atau lebih kecil dari itu.
Seorang raja pada zaman dahulu, namrud namanya, juga demikian. Dia merasa menjadi seorang yang layak angkuh karena kekuasannya. Dia tidak menginginkan ada sesuatu yang dianggap setara dengan kekuasaannya, termasuk tuhan.
Suatu saat, Namrud terlibat perdebatan dengan seorang hamba biasa, bukan anak pejabat, bukan anak raja, dialah Ibrahim. Ibrahim adalah seorang muwahhid yang merasa amat rendah dihadapan tuhannya, sedangkan dia adalah seorang anak tukang pembuat patung, Azar.
Ibrahim menampik pengakuan Namrud yang mengatakan dirinya tuhan. Dia berkata, "Namrud, sesungguhnya tuhan ku mapu menghidupkan dan mematikan. Adakah kau bisa melakukan seperti apa yang dilakukan tuhanku, kalau saja kau benar kau adalah tuhan? Tanya Ibrahim sopan. Namrud bukannya tersinggung, dia merasa tertantang dengan apa yang dikatakan Ibrahim. Dia ingin buktikan kepada Ibrahim, bahwa apa yang bisa dilakukan tuhan Ibrahim, Namrud juga bisa melakuaknnya.
Dengan sombong, segera Namrud memanggil dua orang tentaranya. Setelah keduanya datang kehadapan Namrud, bermaksud membuktikan tantang Ibrahim Namrud berkata,"aku putuskan kamu berdua. Satu diantara kalian akan ,musti mati, dan lainnya aku biarkan hidup".
Dengan segera datang algojo, membunuh satu diantara kedua tentara tersebut. Setelah terbunuh, Namrud berkata dengan sombongnya senbari meremehkan Ibrahim.
"Ibrahim, bukankah aku telah melakukannya. Satu aku kehendaki dia mati, maka matilah. Satu lagi akau biarkan dia hidup, hidup".
Tak kalah, Ibrahim menjawabnya dengan satu pernyataan cerdas.
"kalau begitu baiklah. Tapi ada satu lagi yang harus kau buktikan kalau kau memang tuhan, sehingga mampu melkukannya sebagaimana tuhanku mampu melakukannya"
" katakan saja apa itu!"
Tanpa rasa takut, tanpa brkeringat dingin ketakutan, dengan mantap Ibrahim menjawab diplomatis,
"tuhanku lah yang mendatangkan matahari dari timur setiap hari. Kalau kau memang tuhan, aku minta satu hari saja kau datangkan matahari terbit dari arah barat' mampukah kau melakuaknnya ?.
Namrud merasa kalah dengan argumen yang dikatakan Ibrahim. Akhirnya, Namrud tetap saja tidak mau beriman seperti apa yang didakwakan Ibrahim, itu juga karena keangkuhan.
Keangkuhan seperti apapun itu, adalah suatu hal yang tidak pantas dilakukan oleh makhluk. Sehebat apapun makhluk, tidak akan mampu melakukan satu kekuasaan Allah, pencipta makhluk. Lalul, bagaimana mungkin seorang akan angkuh dengan sesama, sama-sama lemah, sama-sama diciptakan, sama-sama memerlukan ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar